“Satu..
Dua.. Satu..dua..tiga.. Semangat..semangat.. Shania gerakannya yang benar!” teriak Kak Ica.
Seperti biasanya, kami berlatih di TC. Kak Ica melatih kami dengan ketat. Semua untuk wota dan kesuksesan perfom di panggung. Tak jarang kaki terkilir, tapi semua itu tak berarti. Mendengar teriakan dari wota dan melihat tweet wota yang selalu menyemangati tiap waktu membuat kami semua semakin bersemangat dalam memberikan yang terbaik. Yah...meski kadang-kadang agak risih juga sih kalau ada wota yang ekstrim dan alay gitu. Risih tau kalau di zombiin sampe di depan rumah, tak jarang ada yang triak-triak di depan rumah, kadang-kadang aku takut juga sama mereka. Aku juga risih kalau mereka udah mencampuri urusan pribadi. Mau gimanapun kami semua butuh privasi dan gak mau orang lain ikut campur.
“ Beby apa yang kamu pikirkan? Gerakan salah terus! Push up…” bentak kak Ica dengan nada tinggi.
Seperti biasanya, kami berlatih di TC. Kak Ica melatih kami dengan ketat. Semua untuk wota dan kesuksesan perfom di panggung. Tak jarang kaki terkilir, tapi semua itu tak berarti. Mendengar teriakan dari wota dan melihat tweet wota yang selalu menyemangati tiap waktu membuat kami semua semakin bersemangat dalam memberikan yang terbaik. Yah...meski kadang-kadang agak risih juga sih kalau ada wota yang ekstrim dan alay gitu. Risih tau kalau di zombiin sampe di depan rumah, tak jarang ada yang triak-triak di depan rumah, kadang-kadang aku takut juga sama mereka. Aku juga risih kalau mereka udah mencampuri urusan pribadi. Mau gimanapun kami semua butuh privasi dan gak mau orang lain ikut campur.
“ Beby apa yang kamu pikirkan? Gerakan salah terus! Push up…” bentak kak Ica dengan nada tinggi.
“Aduh capeknya,
kakiku sakit lagi. Kapan ini istirahatnya, udah gak tahan ini.” Kataku dalam hati.
Waktu
menunjukkan pukul 9, sekarang semuanya beristirahat. Aku, Shania, Lidya dan
beberapa member duduk santai. Aku, Shania, dan Lidya adalah sahabat. Kami
sangat dekat.
“Aduh
kakiku sakit banget ini, kayaknya tadi salah gerak deh,”
“Makannya
kalau latihan fokus Sin,” sahut Shania dengan santai. “Dans, ambilin minum di
kulkas dong, 5 yak,”
“Yoi
Nju,” Dansh
mengiyakan permintaan Shania.
Dansh adalah salah satu
sahabatku. Aku sangat dekat dengannya, dia sering mengantar dan menungguku di tempat latihan, sampai latihan selesai.
“Kalau
diperhatiin si Dansh
ganteng juga ya,” bisik Lidya padaku.
Aku sebenarnya juga suka pada Dansh, tapi aku gak bisa bilang. Aku gak mau merusak persahabatanku sama Dansh.
Aku sebenarnya juga suka pada Dansh, tapi aku gak bisa bilang. Aku gak mau merusak persahabatanku sama Dansh.
“Kamu
suka dia ya? Dia masih jomblo kok,” jawabku pada Lidya.
Muka
Lidya terlihat merah padam, aku tahu pasti Lidya menyukai Dansh. Lidya memang agak
pendiam, dia jarang berbicara dengan Dansh.
Selama ini hanya Shania yang sering bercanda dengan Dansh. Mereka berdua
terlihat akrab seperti sudah lama kenal. Shania memang crewet sih, tapi dia baik dan cantik.
“Nih
minumnya,” Dansh
menyodorkan minuman pada kami.
"Udah ya, aku mau lanjut main game lagi.”
Seperti biasa, Dansh main COC. Saat dia main COC itulah tercipta moment autis, kadang dia ngomel sendiri kadang senyum-senyum sendiri, bahkan pernah suatu ketika dia teriak-teriak kegirangan sendirian. Okeh, waktu istirahat yang diberikan pun telah selesai dan kami kembali melanjutkan latihan kembali dengan keras dan fokus. Itu semua kan kami lakukan demi membuat pertunjukan yang terbaik.
"Udah ya, aku mau lanjut main game lagi.”
Seperti biasa, Dansh main COC. Saat dia main COC itulah tercipta moment autis, kadang dia ngomel sendiri kadang senyum-senyum sendiri, bahkan pernah suatu ketika dia teriak-teriak kegirangan sendirian. Okeh, waktu istirahat yang diberikan pun telah selesai dan kami kembali melanjutkan latihan kembali dengan keras dan fokus. Itu semua kan kami lakukan demi membuat pertunjukan yang terbaik.
Akhirnya latihan selesai juga.
Kami kembali ke rumah masing-masing. Hari ini aku pulang di jemput ayah, Dansh gak bisa nunggu sampai
selesai latihan. Dia ada acara sama kakaknya, kakak yang otaknya agak “gesrek”. Hahahaha…
***
Pagi tuan Putri, udah berangkat belum?
Jangan lupa bawa tugasnya ya^^
Nanti pulang sekolah ikut aku sebentar
ya, temenin aku cari sesuatu.
Ah
pagi-pagi udah ada sms dari Dansh,
makin semangat nih. Kebetulan jalan ke sekolahku searah dengannya, tak jarang
aku dan Dansh berangkat bersama.
“Sinka
buruan, ntar telat lo,” teriak kak Omi.
“Iye..iye...
bentar lagi kak,” sahutku.
Kak
Omi sekarang sudah kuliah, kak Omi pacaran sama kak Filio, kakaknya si Dansh. Yah meski otaknya
agak “gesrek” tapi dia baik banget,
lumayan cakep juga sih.
Aku
pernah gak sengaja dengar kak Filio nyanyiin lagu pelangi-pelangi dengan
mengubah liriknya. Seperti ini, “ Naomi..Naomi.. alangkah indahmu, seksi
bibirmu rupawan parasmu, pemilikmu aku hanyalah aku… Naomi..Naomi… I love you
slalu ” kak Filio emang gak ada matinya. Ada aja idenya, tapi
rasa-rasanya tingkahnya aneh semua deh hehehe…
Hari
ini ada test lari estafet. Tapi kakiku rasanya masih sakit banget. Cuek ah, ikut
aja daripada aku gak dapet nilai.
Sekolah
telah usai, aku menunggu Dansh
di depan gerbang. Sudah 15 menit tapi Dansh
gak dateng-dateng. Rasanya udah
jengkel banget, aku gak suka menunggu lama. Aku bosan, akhirnya aku jalan ke
depan dan duduk di halte depan sekolah. Tak beberapa lama aku lihat montor Dansh dari kejauhan.
“Maaf ya lama, tadi ada urusan. Ada rapat anggota osis,” kata Dansh dengan wajah sedikit memelas dan penuh penyesalan.
“Iya..iya.. mau
kemana nih?” sahutku agak sewot.
“Ke toko cari
kado buat cewek. Bentar ya aku beli minuman dulu ke depan, haus banget nih.” Dansh melepas helm yang
dipakenya.
“Gilaa… Dansh cakep banget, rahangnya yang terpahat sempurna, bibirnya yang seksi, badannya yang tinggi, serta kulitnya yang sawo busuk eh sawo matang menambah keseksiannya”. Yah terciptalah moment autisku, aku bengong melihat Dansh. Tanpa aku sadari ternyata Dansh memperhatikanku dengan heran.
“Gilaa… Dansh cakep banget, rahangnya yang terpahat sempurna, bibirnya yang seksi, badannya yang tinggi, serta kulitnya yang sawo busuk eh sawo matang menambah keseksiannya”. Yah terciptalah moment autisku, aku bengong melihat Dansh. Tanpa aku sadari ternyata Dansh memperhatikanku dengan heran.
“Sin, kamu gak
papa? Kenapa bengong?” tanya Dansh dengan
heran.
“Eh gak apapa kok, udah sana
kamu beli minum, katanya haus.” Kataku sambil menahan malu.
***
Sekarang
aku dan Dansh sudah berada di sebuah
cafe. Kami hanya berdua dan kami masih memakai seragam. Rasanya malu juga sih,
kami seperti orang pacaran saja.
“Sin aku boleh curhat gak?” kata Dansh sambil memainkan sedotan minumannya.
“Sok
atuh, masalah cewek?” aku penasaran siapa cewek yang disukai Dansh.
Dansh mengajakku ke sebuah toko boneka dan membeli boneka babi warna pink. Bonekanya lucu banget, andai boneka itu buat aku. Duh ngarep banget, hehehe…
Dansh mengajakku ke sebuah toko boneka dan membeli boneka babi warna pink. Bonekanya lucu banget, andai boneka itu buat aku. Duh ngarep banget, hehehe…
“Iya,
masalah cewek Sin. Aku suka sama seseorang, aku sudah lama suka dia tapi aku
gak brani tembak dia. Gimana nih Sin? Rencananya hari ini aku mau tembak dia di
café sih, tapi kalo ditolak gimana? Aku takut nih, bingung juga,” Dansh terlihat sangat
serius.
“Yaudah
tembak aja, urusan diterima atau enggak urusan belakangan. Yang penting kamu
udah ungkapin perasaanmu, yah siapa tahu dia juga sama kamu,” Hatiku rasanya
sakit, Dansh mau nembak cewek dan
aku suka dia. Tapi yaudahlah, toh cinta tak harus memiliki. Aku bahagia
melihatnya bahagia.
“Iya
deh Sin,” tiba-tiba tangan Dansh
meraih tanganku lalu menggenggamnya. “Sinka,
mau gak jadi pacarku? Boneka babi itu buat kamu. Sebenarnya aku suka kamu sejak
awal kita bertemu. Aku gak brani bilang
ke kamu, aku takut kamu nanti malah menjauh,” wajah Dansh terlihat tulus.
Aku
bingung harus jawab apa,
aku masih masih syok ternyata
selama ini Dansh
juga suka padaku. kini hatiku sedang berbunga-bunga, rasanya aku sedang
dikelilingi beribu-ribu kupu-kupu. Aku ingin langsung berkata iya, tapi
gengsilah, akukan cewek masa langsung iya gitu aja.
“Sin.. gimana? Jangan diem aja dong, kamu
gak suka aku ya?” sekarang ekspresi muka Dansh sudah berubah menjadi seperti orang
yang tanpa harapan. Aku tak tega melihatnya.
“Gimana
ya El, aku gak bisa. Maaf ya,” Dansh
menundukkan kepala dan melepaskan genggamannya. “Maksudku aku gak bisa nolak
kamu,” kini aku tersenyum-senyum, tersipu malu dihadapan Dansh.
“Serius kamu mau jadian sama aku? Serius
Sin?” jawab Dansh
dengan girang.
“Iya Dansh,
aku mau.” Jawabku padanya. Tiba-tiba HPku
berbunyi, Lidya SMS.
SMS
Lidya bagai sambaran petir di siang bolong. Aku lupa dia juga suka Dansh, sekarang apa yang
harus aku lakukan. Aku benar-benar bingung, aku gak mau persahabatanku dengan
Lidya hancur hanya karena masalah cinta. Apa yang harus aku lakukan sekarang.
“Sin, kamu gakpapa? Kenapa wajahmu panik begitu? Ada masalah?”
Dansh menyadari perubahan
yang terjadi padaku. “ Siapa yang SMS?”
“Oh gakpapa kok Dansh, hanya tugas sekolah.
Aku lupa belum mengerjakannya.” Aku terpaksa
berbohong. Gak mungkin rasanya jika aku mengatakan yang sebenarnya pada Dansh. Aku akan menunggu
waktu yang pas untuk berbicara dengan Dansh
dan Lidya. Aku tak mau kehilangan mereka berdua.
***
Ini
sudah seminggu sejak aku jadian dengan Dansh.
Semua masih baik-baik saja. Tidak ada yang tahu kalau kami berdua sudah jadian.
“Dek
buruan, aku masih ada janji nih sama Filio,” Triak kakak dari dalam mobil.
Malam ini kakak Omi yang mengantarku ke TC.
“Iya...
masih pake sepatu nih, sabar…” aku bergegas memakai sepatu lalu berlari ke
mobil.
Gara-gara
macet aku jadi terlambat 5menit. Aku bergegas masuk TC dan mulai latihan. Kak
Ica sudah memandangku dengan garang. Aku tahu dia memberi isyarat bahwa aku
salah. Aku balas melihatnya lalu tersenyum sambil berkata “maaf, kak”.
Dua
jam sudah berlalu. Hari ini latihannya hanya dua jam.
“
Shan titip HP sebentar ya, kebelet ke toilet nih,” aku menyodorkan HP ke Shania
lalu bergegas ke toilet.
“Iya
sini,” jawab Shania datar. “Sin, ada SMS nih dari Dansh,” aku tidak mendengar
triakan Shania.
Apa
nih? Sayang? Sejak kapan mereka pacaran. “Lid sini deh, liad nih Dansh sms Sinka pake kata sayang-sayang, emang
mereka pacaran ya? Kok kita gak dikasih tahu sih. Eh…” belum selesai
melanjutkan kata-katanya tiba-tiba Lidya meninggalkan Shania. “Lid mau kemana?
Eh tunggu dong, Sinka masih di toilet nih.” Lidya terlihat acuh, dia
benar-benar meninggalkan Shania sendirian.
“Makasih
ya Shan, loh Lidya mana?” tanyaku heran, selama ini kami selalu keluar dari TC
bersama-sama.
“Tadi
dia kabur gitu aja pas liad sms yang muncul di HPmu,” aku melihat HPku. Aku
syok, El sms dan kata pertamanya adalah ‘sayang’. Pasti gara-gara ini, sekarang
pasti Lidya sudah tahu. Apa yang harus aku lakuin sekarang.
“Sin
aku duluan ya, jemputanku udah dateng. Daaa…” entah kenapa rasanya Shania juga
sedikit berubah.
***
3hari
sudah berlalu sejak kejadian itu. Entah kenapa kini Shania menghindar dariku.
Kami bertiga berjalan sendiri-sendiri.
“Ingat hari ini hari penting untuk kita, berikan
yang terbaik. Banyak fans yang jauh-jauh dari luar kota untuk menyaksikan
konser kalian. Fokus, lupakan semua masalah dan berikan yang terbaik. Anggap
hari ini adalah penampilanmu yang terakhir. Maksimalkan pertunjukan.”
Kak Ica menyemangati kami semua. “
Baiklah, sekarang semuanya bergandengan. Kita berdoa Menurut agama
masing-masing lalu kita toss”
Hari
ini kami ada konser di luar kota. Lidya, Shania, dan aku kebagihan Tensi No
Shipo. Rasanya janggal banget, disaat kami sedang ada masalah malah harus
tampil bersama tapi kami harus profesional.
Aku optimis memberikan yang terbaik.
Dua jam telah berlalu.
Konser sudah selesai. Sekarang waktunya evaluasi.
“Lidya
apa sih yang kamu pikirkan, kenapa
bisa kelupaan lirik lagu? Kamu membuat kecewa. Shania dan Sinka juga sama saja,
kalian di atas panggung seperti orang yang sedang marahan, apa sih yang kalian
pikirkan” Kak Ica terlihat marah.
“Maaf
kak..” jawab Shania,Lidya dan aku dengan bersamaan.
“Yaudah,
sekarang semuanya makan. Kalian bertiga sini duduk berdekatan.” Kak Ica
menunjuk Aku, Shania, dan Lidya. “Makan malam kali ini ada peraturannya, kalian
boleh makan tapi gak boleh sampe menekuk siku. Tidak ada yang boleh protes.”
Kak
Ica memasang wajah garang. Kak Ica masih mengawasi kami. Ada yang makanannya
dilempar keatas ada yang mencoba makan tanpa menekuk siku. Dari semua orang
yang ada, hanya kak Melody yang terlihat tenang. Tiba-tiba dia mengambil
makanan lalu menyuapkannya ke Haruka yang duduk disebelahnya.
“Bagus
Mel, kamu tahu mauku. Sekarang semuanya tiru Melody.” Meja makan kami berbentuk
lingkaran besar sehingga semuanya bisa saling menyuapi. Aku disuapin Haruka,
sementara aku menyuapin Lidya, dan Lidya menyuapi Shania.
“Kalian
ini keluarga, ingat waktu kalian lebih banyak dihabiskan dengan member-member
lainnya daripada dengan orang diluar. Jika ada masalah kalian harus cepat
menyelesaikannya.” Setelah selesai berbicara lalu kak Ica meninggalkan kami,
sementara kami masih saling
menyuapi makanan.
***
Seminggu
telah berlalu, sejak kejadian saling menyuapi
makanan kami bertiga sudah berbaikan lagi. Sekarang
aku dan Dansh
hanya kembali menjadi sahabat. Meski hatiku sangat sakit tapi aku rela
melepasnya. Aku tak mau suatu saat Danshl
menjauh dariku hanya karena kami sudah tidak pacaran.
“Aku mencintaimu namun aku tak bisa
memilikimu. Aku tak mau kau menjauh dariku, selamanya hingga maut menjemput
tetaplah berada disisiku J
Semoga kau mendapatkan orang yang lebih baik dariku, selamat tinggal cinta
pertamaku.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar